Label

Tampilkan postingan dengan label Books. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Books. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Mei 2013

Harry Potter and The Goblet of Fire

Judul : Harry Potter and The Goblet of Fire
Pengarang : J.K Rowling
Published 2007 by GPU
896 halaman

Ini adalah tahun ke-4 Harry di Hogwarts. Tahun ini Harry dan teman-temannya mulai memasuki gejolak masa muda. Masing-masing mulai tertarik dengan lawan jenis, masing-masing mulai merasakan rasa iri pada yang lainnya, namun masalah-masalah itulah yang akan mempererat persahabatan Harry, Ron, dan Hermione.

Diawali dengan kesenangan Piala Dunia Quidditch yang baru kali ini dirasakan Harry. Akhir liburan musim panasnya nyaris sempurna. Bersama keluarga Weasley dan Hermione, Harry menyaksikan secara langsung Piala Dunia Quidditch, Irlandia vs Bulgaria. Di lapangan besar, ribuan penyihir dari berbagai penjuru dunia berkumpul. Pengamanan anti-Muggle diterapkan di berbagai penjuru. Di sini, Harry bertemu dengan Viktor Krum, pemain Bulgaria, yang kelak akan menjadi kawan sekaligus lawannya.

Pertandingan yang dimenangkan oleh Irlandia berujung pada jerit ketakutan banyak penyihir. Keriaan berubah menjadi kengerian, ketika puluhan Pelahap Maut menampakkan diri di tengah-tengah perayaan. Disusul munculnya Tanda Kegelapan di langit malam itu.

Namun kejadian ini hanyalah pembuka dari kisah yang lebih seru dan menegangkan lagi di tahun ke-4 Harry ini. Tahun ini, adalah tahun di mana Turnamen Triwizard kembali diadakan, setelah seratus tahun berselang. Turnamen Triwizard adalah turnamen sihir dimana tiga utusan dari tiga sekolah: Hogwarts, Beauxbatons, dan Durmstrang bersaing untuk memperebutkan Piala Triwizard dan uang 1000 Galleon.

Sebelum hari pemilihan tiba, hari-hari Harry di Hogwarts berjalan seperti biasa. Ditambah dengan pelajaran Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam yang luar biasa sebenarnya. Harry menjadi satu-satunya murid yang berhasil melawan Imperius dalam pelajaran bersama Mad-Eye Moody. Selain itu, Harry dan Ron harus berhadapan dengan Hermione yang tahun ini tergila-gila dengan gerakan S.P.E.W-nya, Society for the Promotion of Elfish Welfare atau Gerakan Pembebasan Peri Rumah ala Hermione.

Hari yang ditunggu-tunggu datang, delegasi dari Beauxbatons dan Durmstrang telah tiba dan berkumpul di Hogwarts. Piala Api telah menentukan para wakil dari setiap sekolah, yaitu Fleur dari Beauxbatons, Krum dari Durmstrang, dan Cedric dari Hogwarts. Namun ketika seluruh hadirin mengira bahwa Piala Api akan padam, ia kembali memuntahkan satu nama; HARRY POTTER. Ya, bu J.K memang selalu bisa memunculkan pahlawan kita ini dengan cara-cara yang dramatis dan mengejutkan.

Pro dan Kontra bertebaran dalam memutuskan apakah Harry boleh mengikuti Turnamen ini atau tidak. Di satu sisi Harry masih di bawah umur, namun di sisi lain namanya telah keluar sebagai salah seorang peserta Turnamen Triwizard (bukan Triwizard lagi harusnya ya..). Meski dengan beragam protes dari berbagai pihak, Harry akhirnya tetap ikut berpartisipasi dalam Turnamen ini.




Parahnya, Harry harus dimusuhi oleh seluruh asrama selain asramanya akibat keikutsertaannya. Ditambah lagi Ron yang ikut menjauhinya karena merasa Harry hanya ingin menambah ketenarannya semata. Padahal Harry sama sekali tidak menginginkan hal ini. Ditambah lagi tiga tugas berat menantinya sebagai salah satu peserta Turnamen Triwizard.

Dalam tugas terakhir, mencari Piala Triwizard dalam labirin yang penuh tantangan, sebuah kejutan besar tengah menanti Harry. Piala Triwizard yang telah diubah menjadi Portkey membawa Harry langsung menuju Lord Voldemort.

Buku ke-4 ini sukses bikin gua tegang, meski berkali-kali dibaca. Di buku ini Lord Voldemort berhasil bangkit, yang artinya masa kegelapan dunia sihir mulai bangkit kembali. Di sini juga Harry bertemu kedua orang tuanya, meski hanya sebatas 'gaung' semata. Buku ini juga buku pertama serial Harry Potter yang memunculkan kematian. Kematian muggle serta kematian Cedric Diggory.

Meski inti cerita dalam buku ini bernuansa tegang, tapi masih banyak cerita-cerita ceria yang bisa membuat kita senyum-senyum sendiri bacanya. Seperti obsesi Hermione buat bebasin para Peri Rumah, berantemnya Ron dan Hermione gara-gara Pesta Dansa, Hagrid yang jatuh cinta, dan masih banyak lagi.

Gua pribadi seneng banget waktu baca adegan di Pesta Dansa, dimana Hermione digambarkan tampil dengan bener-bener memukau. Apalagi pasangannya adalah Krum, yang kita tau adalah pemain Quidditch terkenal. Penggambaran dalam film-nya kira-kira ini:
Buku #4 ini bener-bener pantas buat di baca deh. Meski kalau di tanya, semua serial Harry Potter memang worth it! banget menurut aku. Hhe..

Minggu, 31 Maret 2013

Harry Potter & The Prisoner of Azkaban


Judul : Harry Potter & The Prisoner of Azkaban
Pengarang : J.K. Rowling


Novel ketiga seri Harry Potter ini cukup menegangkan. Kenapa cukup? Mungkin karena ini bukan seri favorit saya. Hhe..
Di sini, kisah masa lalu Harry mulai terbongkar sedikit-demi-sedikit. Bagaimana kedua orangtuanya meninggal. Siapa saja sahabat-sahabat ayahnya. Siapa mata-mata Lord Voldemort. Dan kegiatan ramal-meramal, yang sudah saya duga pasti akan ada di setiap novel sihir, juga muncul di sini. Meski dengan segala keanehannya~~ hhe :D 
Tepat di hari terakhir perjanjiannya dengan Paman Vernon, Harry menggelembungkan bibinya. Anehnya, Menteri Sihir, Mr. Fudge, yang ia temui dalam usahanya melarikan diri tidak menghukum ataupun mengambil tongkat sihirnya.
Harry akhirnya menghabiskan sisa liburan musim panasnya di Leaky Cauldron. Dan bertemu dengan teman-temannya pada hari terakhir liburan. Malam sebelum keberangkatan, jawaban atas kebingungannya terbongkar. Sirius Black, narapidana Azkaban, dikabarkan melarikan diri untuk menangkapnya.
Imbas dari kaburnya Sirius, Hogwarts dipenuhi oleh Dementor. Pertemuan pertama Harry dengan Dementor sendiri tidak menyenangkan, Ia satu-satunya yang pingsan di kompartemennya. Demikian pula yang terjadi pada pertemuan kedua. Ia terjatuh dari sapunya, dan Nimbus-nya meluncur bebas menuju dedalu perkasa. Dalam perkembangannya, Profesor R.J. Lupin, pengajar Pertahanan terhadap Ilmu Hitam tahun itu, menjelaskan bahwa hal itu dikarenakan trauma masa lalu Harry yang lebih kuat dibandingkan dengan orang lain. Ia juga yang lalu mengajari Harry mantra Patronus.
Di tahun ketiga ini para murid diizinkan mengunjungi Hogsmeade. Namun Harry, yang gagal mendapatkan tanda tangan Paman Vernon, tertinggal sendiri di kastil. Merasa kasihan pada Harry (?), si kembar Weasley memberinya Peta Perampok. Peta ini memungkinkan Harry pergi ke Hogsmeade mengikuti teman-temannya.
Tapi kisah Harry bukan hanya mengenai pergi ke Hogsmeade, belajar, berkelahi dengan Draco Malfoy, detensi dengan Snape, dan bermain Quidditch. Kali ini pelajaran terhadap Ilmu Hitam yang mereka dapatkan sangat menarik. Mereka mendapat pelajaran mengenai berbagai makhluk sihir dan cara mengatasinya. Salah satu yang menarik adalah ketika mereka belajar mengenai Boggart (Hha). Mereka juga berulang kali mendapat teror dari kemunculan Sirius Black di kamar asrama mereka, yang entah bagaimana caranya bisa memasuki Hogwarts.
Semacam terkejut dengan hasil akhir dari berbagai konflik yang dihadapi Harry di buku ini. Tapi begitulah cara pengarang favorit saya ini menulis. Penuh dengan kejutan dan tak terduga. Meski, seperti yang saya katakan sebelumnya, seri ketiga ini bukan favorit saya, saya tetap menikmati saat-saat membaca ulang buku ini. Jangan tanya sudah berapa kali saya reread serial Harry Potter, karena saya sendiri lupa. :D

Beberapa hal di buku ini yang saya harap benar-benar ada di dunia ini adalah.
  • Peta Perampok. Bayangin kalau kita bener-bener punya sebuah peta yang memungkinkan kita buat melihat pergerakan semua orang di sekitar kita (dalam buku ini hanya lingkup Hogwarts). Yang ngga bisa dibuka oleh orang lain yang ngga tau kata kuncinya. Kata "rahasia" memang selalu membangkitkan minat siapapun saya rasa.
 
  • Dedalu Perkasa. Bukan, bukannya mau bunuh diri pake dedalu perkasa. Tapi sound's great aja ada 'benda' semacam ini yang melindungi tempat persembunyian saya (misalnya saya punya). Selama saya punya kemampuan buat mencet dahannya sih -___- .

  • Permen-permen Honeydukes. Lollypop rasa Darah? Kumbang Berdesing? Cuka Meletup? Kerumunan Kecoak (-____-)? Pepermin Kodok? Permen Pena Bulu? Huwaaaa~~~ I really loves candy :3

  • Butterbeer. Sebenarnya, saya sadar minuman ini mungkin emang ada. Tapi yang jelas kemungkinan besar minuman ini ngga halal buat saya (beer?). Hufht.. 

  • Hippogriff. Binatang dengan harga diri yang sangat tinggi. Ngga mau, ngga ikhlas, dan menolak di naikin sama orang yang merendahkan dia. Makannya di sini dia ngelukain Malfoy, yang emang nyebelin banget entah kenapa. Good Boy (?). Gagah banget sumpah ini binatang~~


  • Firebolt. Sebenernya ngga harus firebolt juga sih. Yang jelas, selalu berharap yang namanya sapu terbang beneran ada. Apapun namanya. Kan hemat tempat dan anti macet kalau ke mana-mana pake sapu terbang.


Sekolah di Hogwarts, dengan semua pernak-pernik itu. Pasti itu mimpi hampir semua penggemar Harry Potter! Hha.. :))

Kamis, 07 Maret 2013

Cantik itu Luka

Judul : Cantik Itu Luka
Pengarang : Eka Kurniawan
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama


Cantik itu Luka
Dengan latar belakang putih, nampak sesosok wanita tengah berbaring telentang pada cover buku ini.
Yang pertama menarik tangan saya untuk mengambil buku ini dari rak adalah judulnya.
"Bukankah nyaris setiap wanita ingin menjadi cantik?" pikir saya kala itu.
Namun saat membaca bagian belakang buku, meski hanya sedikit, telah menggambarkan apa yang akan saya temui apabila saya membacanya..
Di akhir masa kolonial, seorang perempuan dipaksa menjadi pelacur. Kehidupan itu terus dijalaninya hingga ia memiliki tiga anak gadis yang kesemuanya cantik. Ketika mengandung anaknya yang keempat, ia berharap anak itu akan lahir buruk rupa. Itulah yang terjadi, meskipun secara ironik ia memberinya nama si Cantik.
Namun ternyata, kisah yang disajikan Eka Kurniawan di dalamnya lebih rumit dari apa yang ada dalam pikiran saya. Alur cerita yang memang maju-mundur, terkadang membuat saya sedikit bingun. Namun tidak menghalangi untuk menikmatinya. Malah, alur tersebut menjadi poin tambah tersendiri bagi buku ini.

Adalah seorang gadis cantik bernama Dewi Ayu. Ia adalah seorang peranakan campuran, yang lahir dari sebuah cinta di antara saudara tiri. Kedua orangtuanya pergi dari rumah dan meninggalkan Dewi Ayu di pintu depan Oma dan Opa nya sejak Ia masih orok.

Sejak kecil Dewi Ayu berbeda dari gadis-gadis kebanyakan. Ia begitu berani dalam ucapan, dan begitu cantik dalam penampilan. Dia selalu berpikir sepraktis mungkin, ia tidak terbatasi oleh agama manapun. Hidupnya mengalir begitu saja. Hingga akhirnya Jepang mengambil alih di Halimunda.

Tentara-tentara Jepang datang, membawa seluruh keluarga Belanda baik yang murni maupun campuran. Mereka diletakkan di dalam penjara yang jelek, tidak diberi cukup makanan, bahkan tidak pula mendapat obat-obatan. Satu persatu tawanan mati, dikuburkan di halaman belakang sel. Hingga suatu hari ibu dari sahabatnya sekarat, hingga Dewi Ayu merelakan tubuhnya ditukarkan dengan seorang dokter pada Komandan pasukan Jepang.

Suatu hari para gadis tercantik di penjara di bawa menuju sebuah rumah megah. Termasuk Dewi Ayu. Di sana, mereka di paksa menjadi pelacur. Melayani para tentara Jepang yang kesepian jauh dari rumah. Di sana, Dewi Ayu mengandung anak pertamanya, Alamanda. Yang kelak akan tumbuh menjadi gadis cantik pula. Sebagaimana ibunya.

Hari berganti, tentara Jepang terusir oleh tentara KNIL. Tentara KNIL sebagian mati dalam serbuan para gerilyawan. Para gadis kembali di perkosa. Kali ini, oleh para pribumi (gerilyawan) yang menyerang rumah tempat mereka berlindung. Dewi Ayu kembali mengandung anaknya yang kedua, Adinda.

Ketika zaman perang berakhir, Dewi Ayu tetap menjadi pelacur dengan berbagai alasan. Terutama adalah, untuk melunasi hutangnya pada Mama Kalong. Juga kembali melahirkan anaknya yang ketiga, Maya Dewi. Satu hal yang ia inginkan adalah agar anak-anaknya kelak tidak harus menjadi pelacur sebagaimana dirinya.

Dalam masa-masanya menjadi pelacur. Dewi Ayu kembali mengandung. Namun kali ini ia berdoa dengan sungguh-sungguh. Mengharap dengan segala daya yang ia miliki. Agar anaknya yang terakhir tidak lahir dengan paras yang cantik sebagaimana kakak-kakaknya. Dan doanya terkabul. Ia melahirkan anak yang begitu buruk rupa, yang ironisnya dinamakannya Si Cantik.

Alamanda, si sulung, terpaksa menikah dengan sang Shodanco tanpa cinta. Padahal hatinya masih tetap menjadi milik Kamerad Kliwon, seorang komunis. Hingga akhirnya ada tahun kelima pernikahannya ia bersedia membuka hatinya untuk suaminya sendiri, dan melahirkan seorang anak gadis bernama Nurul Aini.

Adinda, si tengah, jatuh cinta pada lelaki yang sama yang dicintai kakanya. Kamerad Kliwon. Lelaki yang seluruh cinta dan hatinya telah tertuju pada Alamanda seorang. Karenanya ketika suatu hari Kliwon datang ke rumahnya, menemui ibunya, dan melamarnya, Adinda sangat terkejut sekaligus bahagia. Sebab penantiannya ternyata berbuah manis pada akhirnya. Dari pernikahannya dengan Kliwon, Adinda melahirkan seorang bayi laki-laki bernama Krisna.

Maya Dewi, si bungsu, menerima permintaan ibunya untuk menikahi Maman Gendeng. Yang awalnya adalah kekasih sang ibu. Rupanya Dewi Ayu takut Maya Dewi jatuh kepada orang yang salah, sehingga ia meminta orang yang paling dikenalnya untuk menjaga Maya Dewi. Namun begitu, usia Maya Dewi begitu belia ketika mereka menikah. Sehingga Maman Gendeng, dengan kesabaran misterius seorang lelaki, bertahan untuk tidak menyentuh Maya Dewi selama lima tahun pernikahan mereka. Bukan berarti Maman Gendeng tidak mencintai istrinya. Sebaliknya, ia begitu menyayanginya, hingga ia tidak dapat membayangkan merusak kebahagiaan masa kecil Maya Dewi kala itu. Tapi di tahun kelima pernikahan mereka, Maman Gendeng menerima balasan kesabarannya. Maya Dewi, sebagaimana Alamanda, melahirkan seorang bayi perempuan yang diberi nama Rengganis Si Cantik,

Si Cantik yang buruk rupa, menjadi janda tanpa pernah menikah. Ia bertemu dengan Pangeran yang tak dapat dilihat siapapun. Bercinta dengannya, lalu hamil. Meski pada akhirnya bayi itu tidak pernah sempat melihat dunia.


Anak-anak Dewi Ayu mewarisi kecantikannya. Kecuali anaknya yang terakhir, si Cantik. Namun keempatnya sama-sama terbebani kutukan yang sama. Mereka dihantui oleh roh jahat yang sama. Yang selalu menggunakan berbagai macam cara untuk menyiksa Dewi Ayu dan keturunannya. Membawa malapetaka dalam keluarga Dewi Ayu. Hingga mereka semua akhirnya kehilangan seluruh yang mereka cintai, dan tinggal memiliki satu sama lainnya.

Novel ini, begitu mempermainkan imajinasi dan emosi. Memikirkan bagaimana rasanya hidup pada masa itu. Menjadi tawanan perang, tidak memiliki kuasa bahkan atas tubuh kita sendiri. Hidup di daerah di mana roh-roh jahat, arwah penasaran, berkeliaran di segala penjuru. Membaca bagaimana sebuah keluarga bisa terlibat dalam sebuah kisah cinta yang begitu rumit. Kakak dengan adiknya.  Menantu dengan mertua. Cinta antar sepupu. Juga kisah-kisah cinta lain yang mungkin tak terbayangkan oleh kita bahwa hal itu benar-benar ada dalam realitas kita.

Bagi anda yang penasaran dengan novel ini, siapkanlah mental anda terlebih dahulu sebelum membacanya.
:)

Sabtu, 02 Maret 2013

Harry Potter and the Chamber of Secrets

Judul Buku : Harry Potter and the Chamber of Secrets
Pengarang : J.K.Rowling
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun kedua Harry sebagai seorang penyihir, ternyata tidak berjalan dengan lancar. Kehidupan sekolahnya masih diiringi dengan bermacam-macam petualangan yang menegangkan sekaligus menyenangkan. Masih tetap bermasalah dengan Prof. Snape serta para penghuni asrama Slytherin, kesabaran Harry semakin diuji dengan adanya guru pertahanan terhadap Ilmu Hitam yang baru, Prof Lockhart.

Semuanya berawal dari musim panas pada ulang tahunnya yang ke-13. Di mana tidak satupun sahabatnya mengirimkan kartu ucapan selamat ulang tahun padanya, ataupun sekedar menanyakan kabarnya. Namun kedatangan sesosok seorang tak di kenal menjelaskan segalanya.

Dobby, seorang peri-rumah, muncul di kamar tidur Harry tepat pada hari Ulang Tahunnya. Memaksanya untuk berjanji agar tidak kembali ke Hogwarts, sebab ada bahaya besar yang akan dihadapinya di sana. Saat itulah Harry mengetahui bahwa Dobby adalah penyebab tidak satupun surat datang padanya. Dobby telah memblokir dan menyita surat-surat dari sahabat-sahabatnya di sekolah. Menolak untuk tidak kembali ke sekolah, Dobby melakukan Mantra Melayang yang menyebabkan Harry mendapat peringatan dari Kementrian Sihir. Akibatnya, keluarga Dursley akhirnya mengetahui bahwa Harry dilarang menggunakan sihir di luar sekolah.

Terkurung di dalam kamarnya tanpa bisa menggunkan sihir untuk membebaskan dirinya, Harry merasa hampir putus asa untuk bisa kembali ke Hogwarts. Namun suatu malam, Ron dan kedua saudara kembarnya muncul sebagai peyelamat di kamarnya-errr, tepatnya di jendela kamarnya. Dengan mengendarai mobil terbang, mereka menyelamatkan Harry dan membawanya ke The Burrow.

Harry menghabiskan sisa liburan musim panasnya di rumah sahabatnya Ron. Pada 1 September, seperti biasa ia akan kembali ke sekolahnya. Tapi kali ini, pintu masuk menuju peron 9 3/4 menolaknya. Setiap kali ia mencoba menembus gerbang itu, ia dan Ron selalu saja menabrak. Hingga akhirnya mereka nekat menggunakan mobil terbang Mr.Weasley lagi untuk mencapai Hogwarts.

Kejadian-kejadian menarik yang dialami Harry tidak berhenti sampai disitu. Di tahun itu, Harry bersama Ron dan Hermione belajar membuat ramuan Polijus, yaitu ramuan yang memungkinkan mereka untuk berubah menjadi orang lain, untuk menyusup ke menara Slytherin. Mereka diajari oleh guru paling gila perhatian yang pernah mereka kenal, namun sebenarnya tidak bisa melakukan apa-apa. Berkenalan dengan tanaman Mandrake yang jeritannya dapat melumpuhkan bahkan membunuh manusia. Masuk ke dalam Hutan Terlarang dan bertemu dengan keluarga besar Aragog, labah-labah raksasa peliharaan Hagrid. Mendengar suara-suara di balik dinding. Mendapati kejutan bahwa ia bisa berbicara dengan ular (Parselmouth), bahasa yang seharusnya hanya dikuasai oleh keturunan Salazar Slytherin. Serta terbukanya kembali Kamar Rahasia.

Kenyataan bahwa Kamar Rahasia terbuka kembali merupakan teror tersendiri bagi penghuni Hogwarts. Murid-murid yang tidak memiliki darah penyihir murni mulai berjatuhan. Membeku. Membatu. Bahkan Nick-si-Kepala-Nyaris-Putus ikut menjadi korban. Fakta bahwa Harry mewarisi kemampuan Salazar Slytherin, membuat Harry dicurigai sebagai sang pewaris yang telah membuka pintu Kamar Rahasia.

Tapi pada akhirnya Harry berhasil membersihkan namanya, dan bahkan mengalahkan pewaris Slytherin, Tom Marvolo Riddle a.k.a Lord Voldemort, yang muncul dari sebuah buku harian. Ia juga dengan susksenya membunuh monster penghuni kamar rahasia, Basilisk. Sejujurnya, aku suka cara mba J.K. mendeskripsikan Basilisk. Meski Basilisk itu monster mematikan, tetap aja rasanya keren ngebayangin ular macam ini benar-benar ada. Hha..

Selalu terpana dan terpesona dengan cara-cara Harry menaklukkan lawan-lawannya. Sederhana. Namun efektif. Padahal sudah berkali-kali re-read novel ini. Tapi entah kenapa selalu gak bisa gak menahan napas di saat-saat kritis dan genting. Meski sudah sangat hapal gimana kejadian-kejadian itu akan berakhir.

Dalam novel kedua ini, diceritain kalau Harry melewatkan pesta Hallowen demi pesta Ulang Tahun Nick-si-Kepala-Nyaris-Putus. Ngebayangin gimana rasanya menjadi manusia di antara para hantu. Ngga bisa makan apa-apa karena jelas makanan-makanan itu ngga akan sesuai dengan perut kita (kacang bulukan? yuks :x). Sementara di Aula anak-anak lain sedang menikmati berbagai hidangan lezat. Hufht.. Tapi Harry memang patut di acungi jempol, sebagai seseorang yang sangat setia kawan dan memegang teguh janji.

Buku ini, beserta seluruh serinya, akan selalu mendapat nilai sempurna bagi saya pribadi.

Senin, 28 Januari 2013

Harry Potter and the Sorcerer's Stone

Judul                   : Harry Potter dan Batu Bertuah
Pengarang         : JK. Rowling
Penerjemah       : L. Susanti
Cetakan              : 20, 2006
Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama
Harry Potter, seorang bocah cilik bermata hijau dan rambut berantakan, tinggal bersama paman dan bibinya yang tidak menyukainya, dan seorang sepupu, Dudley, yang selalu menggunakan waktunya untuk mengganggu Harry. 

Menjadi yatim piatu sejak lahir, Harry diberitahu bahwa kedua orangtuanya telah meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil, yang juga meninggalkan bekas luka berbentuk sambaran kilat di dahinya. Tumbuh dengan merasa dan diperlakukan berbeda oleh orang-orang di sekitarnya, tanpa menyadari bahwa dia adalah seorang penyihir, hingga pada hari ulang tahunnya yang ke-11.

Selama 11 tahun hidupnya, Harry menyadari bahwa hal-hal aneh selalu terjadi pada dirinya. Bicara dengan ular di kebun binatang. Mendarat di atas atap saat bersembunyi, maupun rambut yang tumbuh sendiri dalam waktu semalam. Lalu sepucuk surat (banyak sebenarnya) mengubah seluruh hidupnya. Surat yang bertuliskan,
Mr. Harry Potter
Lemari di Bawah Tangga
Privet Drive no.4
Little Whinging Surrey
meski Harry tidak sempat membacanya pada kesempatan pertama, kedua, ketiga........ yang jelas, surat itu mengubah seluruh hidup Harry selamannya.

Gimana rasanya dikunjungi oleh manusia separo raksasa dengan rambut awut-awutan di hari ulang tahunmu yang ke-11? Terlebih lagi dia membawa sepotong cake ulang tahun yang pertama kali kamu terima seumur hidupmu. Bukan itu saja, dia juga membawa kabar bahwa kamu adalah seorang PENYIHIR.

Menolak. Tidak Percaya. Menyangkal. Rendah Diri (atau mungkin Minder?). Adalah reaksi pertama Harry ketika Hagrid menceritakan sejarah hidupnya yang (katanya) diketahui seluruh penyihir di dunia selain dirinya. Setelah itu, rasa ingin tahu, dan haus akan pengetahuan tentang dunianya yang menguasainya.

Diagon Alley. Kembali mengejutkan Potter muda dengan segala macam barang yang tidak pernah dilihatnya, dan kenyataan bahwa sebagai seorang penyihir, Harry sangatlah berkecukupan. Di sambut dengan 'sangat' ramah oleh banyak penyihir yang ditemuinya, dia sudah bukan lagi anak aneh dengan baju kedodoran. Harry mulai menyukai hal-hal baru yang ditemuinya.

Petualangan baru benar-benar di mulai pada tanggal 1 September. Kebingungan menemukan peron 9 3/4, Harry berkenalan dengan keluarga Weasley. Tanpa disadarinya, mereka adalah keluarga yang akan berperang sangat penting bagi hidupnya, dan percintaannya....

Namun euforia Harry tidak berlangsung lama, dan terus-menerus. Bahkan sebelum mencapai Hogwarts, Harry telah menyulut bara permusuhan di antara dirinya dengan Draco Malfoy. Selama Harry di sana, bukan hanya Malfoy dan seluruh penghuni asrama Slytherin, tapi juga Prof. Snape yang sejak awal pertemuan mereka sudah menunjukkan kebenciannya terhadap Harry. Oh ya, Harry masuk asrama Gryffindor tentu saja. Seperti kedua orantuanya, Ron beserta seluruh keluarganya, Neville, dan Hermione.

Tapi sebelum petualangan benar-benar di mulai, Harry menjalani hari-harinya dengna cukup menyenangkan. Terpilih sebagai anggota termuda tim Quidditch asramasnya, Harry menyadari bahwa dia benar-benar berbakat di atas sapu.

Di Hogwarts (ah, aku lupa menyebut Hogwarts sebelumnya), Harry bukan hanya berteman baik dengan Hagrid, Ron, dan siapa sangka, Hermione. Tapi juga mengalami petualangan luar biasa bersama mereka. Bertemu dengan Fluffy yang menyukai musik. Kejar-kejaran dengan penjaga sekolah dan kucingnya yang suka mengendus. Mendapatkan jubah gaib sebagai hadiah natalnya. Bertemu Nick-si-Kepal-Nyaris-Putus. Hingga pada akhirnya, bertemu dengan bayang-bayang masa lalunya. Penyebab kematian kedua orantuany, dan yang menyisakan bekas luka berbentuk sambaran kilat di dahinya. Kau-Tahu-Siapa. Ahh, mungkin lebih baik kita sebut dia Voldmort.
----o----

Kalau diingat-ingat, ini adalah novel fantasi pertama yang aku baca. Berapa umur aku waktu itu ya? Kelas 5 SD mungkin? Hemmm.. Novel ini juga yang jadi awal mula ketertarikan dengan novel-novel sejenis. Sampai sekarang rak buku udah penuh dengan novel-novel tentang sihir, petualangan, dan hewan-hewan yang ngga pernah ada kita lihat.

Mungkin dari sini juga aku jadi seorang pengkhayal dengan imajinasi yang terlalu liar. Yeah, liar. Kayak ngebayangin punya telinga karya Fred and George buat nguping. Ngebayangin nulis dengan bulu di atas perkamen, dan bukannya pulpen. Punya jubah gaib Harry yang memungkinkan aku masuk bioskop tanpa bayar. Dan yang jelas, berharap saat berumur 11 (8 tahun yang lalu, hanya beberapa bulan menuju ulang tahun ke-11 ku) akan ada sosok seperti Hagrid yang datang dan ngasih tiket menuju peron 9 3/4 (lihat betapa sebuah buku bisa memepengaruhi imajinasi seorang anak).

Tapi, novel ini benar-benar memikat aku, yang saat itu hanya seorang bocah ingusan, sampai sekarang. And Yes, I'm addict with Harry Potter. Meski versi filmnya kurang memuaskan keliaran imajinasi yang sudah terprogram sendiri di dalam kepalakus setiap aku membaca novel ini berkali-kali.

Membaca Harry Potter dan membaca Percy Jackson, secara garis besar mereka sama-sama bocah istimewa yang awalnya ngga tau apa-apa tentang keistimewaan diri mereka. Dengan takdir berat yang menanti mereka di depan. Dan lawan yang lebih berat dari segalanya, yaitu ketakutan diri sendiri. Dengan umur yang ngga terlalu beda jauh di saat mereka pertama kali bersentuhan dengan dunia mereka yang sesungguhnya. Tapi dengan cerita dan daya tarik masing-masing. I really like this kind of book.

Membaca novel ini lagi untuk waktu yang sudah cukup lama dalam rangka mengikuti "Hotter Potter: A Harry Potter Reading Event (Indonesia)" yang di adakan oleh http://surgabukuku.wordpress.com . Bikin miris kalau ingat buku ini hilang, saat dipinjamkan pada salah satu teman Teteh. Hemm.. :'

Intinya, novel Harry Potter adalah jenis novel yang selalu menyenangkan meski berkali-kali dibaca. Padahal, aku bukan tipe orang yang suka melakukan hal yang sama berulang-ulang. But, that was the magic of Harry Potter right? :) 

Yang jelas, angka penuh buat novel ini. Dan Happy Reading untuk kalian yang baru pertama kali baca novel ini.